Bab 5
Setelah
menyelesaikan pertarunganku dengan musuh yang kuat yang sedang berpatroli di
<Labyrinth Area> di lantai 74, aku mengingat jalan kembaliku, begitu juga
dengan masa lalu, dan menghela napasku ketika aku melihat cahaya dari jalan
keluar.
Aku
mengosongkan pikiranku, berjalan dengan cepat keluar dari labyrinth area, dan
menghirup udara yang segar dan bersih dalam-dalam.
Di
hadapanku, lorong yang sempit berubah menjadi hutan yang lebat dan penuh dengan
pohon. Di belakang ku, labyrinth area tempatku keluar barusan menjulang tinggi
hingga ke langit—atau lebih tepatnya hingga ke permukaan bagian bawah lantai
selanjutnya.
Karena
tujuan akhir gamenya adalah untuk mencapai puncak tertinggi dari kastil ini,
dungeon di dunia ini tidak menuju ke bawah tanah melainkan berbentuk menara.
Tapi, setting dasarnya tidak berubah: monster di labyrinth area lebih kuat dibandingkan
monster yang berada di jalanan, dan boss monster menunggu di bagian terdalam
dari labyrinth area.
Saat ini,
delapan puluh persen dari labyrinth area di lantai 74 telah di jelajahi, atau
dengan kata lain, telah di <mapped>. Dalam beberapa hari, boss room
mungkin akan ditemukan, dan sebuah tim untuk melawan boss dengan anggota yang
banyak akan dibuat. Saat itu, bahkan aku, seorang solo player, akan ikut ambil
bagian.
Aku
tersenyum pada diriku sendiri karena merasa tidak sabar dan frustasi pada saat
yang sama dan mulai berjalan melewati jalur yang ada.
Saat ini,
rumah tempat tinggal ku berada di kota terbesar di Aincrad, yaitu
<Algade>, yang lokasinya berada di lantai ke 50. Yah, dari luasnya,
Starting City lebih besar, tapi tempat itu sekarang sudah menjadi markas
<The Army> sepenuhnya, jadi berjalan di sekitar sana menjadi agak tidak
nyaman.
Segera
setelah aku keluar dari padang rumput yang mulai menggelap, sebuah hutan yang
berisi pohon-pohon tua membentang di depanku. Jika aku berjalan selama tiga
puluh menit lewat sini, Aku akan sampai di <Housing Area> dari lantai 74
dan bisa menggunakan <Teleport Gate> disana untuk teleport ke Algade.
Aku bisa
saja menggunakan satu dari instant teleportation item didalam inventory ku
untuk kembali ke Algade kapanpun. Tapi karena harganya sedikit mahal, Aku
enggan menggunakannya kecuali jika aku sedang berada dalam situasi berbahaya.
Masih ada sedikit waktu hingga mataharinya menghilang sepenuhnya, jadi aku
menolak godaan untuk kembali kerumah secepatnya dan akhirnya masuk kedalam
hutan.
Sebagai
catatan, ujung-ujung dari setiap lantai di Aincrad biasanya terbuka lebar
langsung ke langit, kecuali bagian tiang penahannya. Pohon-pohon menjadi
berwarna merah api karena terkena cahaya yang masuk melalui celah tersebut.
Kabut yang mengalir diantara cahaya matahari memantulkan cahaya dengan
indahnya. Suara kicau-an burung, yang sering terdengar disiang hari, menjadi
sulit terdengar, karena suara batang pohon yang bergoyang-goyang karena tertiup
angin yang kencang.
Aku tahu
dengan jelas kalau aku bisa bertarung dengan monster di area ini meskipun aku
mengantuk, tapi rasa takut yang datang bersamaan dengan kegelapan susah
dihindari. Sebuah perasaan yang mirip dengan ketika aku tersesat dan tidak bisa
pulang waktu kecil menyelimutiku.
Tapi aku
tidak membenci perasaan ini. Aku kadang-kadang melupakan rasa takut ini ketika
aku masih di dunia nyata. Rasa kesepian yang kau dapatkan ketika kau berkelana
sendirian di tempat asing tanpa seorangpun yang terlihat seberapa keraspun kau
mencoba melihat—kau bisa menyebutnya sebagai dasar dari RPG.
Ketika aku
sedang terpaku mengenang masa lalu, sebuah teriakan yang belum pernah kudengar
sebelumnya memasuki telingaku.
Itu
terdengar hanya sesaat, keras dan jelas seperti suara sebuah peluit. Aku
menghentikan langkahku dan mencari dengan seksama ke arah suaranya berasal.
Jika kau mendengar atau melihat sesuatu yang kau tidak pernah alami sebelumnya
di dunia ini, itu bisa saja berarti kalau kau sangat beruntung atau bisa juga
sebaliknya.
Sebagai
seorang solo player, Aku melatih skill <Scan for Enemy>ku. Skill ini
mencegah serangan tiba-tiba dan ketika kau sudah ahli menggunakannya, itu akan
memberikan kemampuan tambahan pada si pemain untuk bisa mendeteksi monster yang
sedang "bersembunyi." Dengan itu, AKu bisa melihat seekor monster
bersembunyi diantara batang pohon di jarak sepuluh meter dariku.
Monster itu
tidak terlalu besar. Monster itu mempunyai bulu hijau untuk berkamuflase
diantara dedaunan dan mempunyai telinga yang lebih panjang dibandingkan
tubuhnya. Ketika aku berkonsentrasi kearahnya, secara automatis monster itu
menjadi targetku dan sebuah cursor berwarna kuning muncul bersama dengan
namanya.
Aku menahan
napasku saat aku melihat namanya: <Ragout Rabbit>. Itu cukup langka
hingga bisa mendapat gelar "super."
Itu pertama
kalinya aku melihat yang asli. Kelinci yang hidup di batang pohon itu tidak
begitu kuat, juga tidak memberimu banyak experience points, tapi-
Aku
diam-diam mengambil sebuah throwing pick kecil dari sabuk ku. <Knife
Throwing Skill> ku tidak begitu tinggi. Aku hanya memilihnya sebagai cabang
di skill tree ku pada suatu saat. Tapi kudengar kalau Ragout Rabbit adalah
monster tercepat dari seluruh monster yang diketahui saat ini, jadi aku tidak
terlalu percaya diri untuk menangkapnya dengan pedangku.
Aku punya
satu kesempatan untuk menyerang sebelum musuh menyadari keberadaanku. Aku
mengangkat pick tadi, berdoa, dan bergerak mengikuti posisi gerak awal skill
<Single Shot>.
Yah, sekecil
apapun skill ku, tanganku dibantu oleh dexterity ku yang tinggi dan melempar
pick nya dengan gerakan yang agak terlihat kabur. Pick nya berkilau sekali dan
menghilang dibalik pepohonan. Segera setelah aku menyerang, cursor kuning yang
tadinya menunjukkan lokasi Ragout Rabbit berada, berubah menjadi merah dan
muncul HP bar dibawahnya.
Sebuah teriakan
kencang terdengar dari arah pick ku terlempar. HP bar nya semakin mengecil dan
kemudian mencapai 0. Terdengar suara polygon pecah yang tidak asing lagi.
Aku
mengepalkan tangan kiriku. Aku mengangkat tangan kananku dan membuka main menu.
Aku membuka inventory dengan cepat, meski begitu gerakan tanganku terlihat
terlalu lambat bagiku, dan benda itu ada di bagian teratas dari item list baru
kudapat: <Ragout Rabbit’s meat>. Itu adalah rare item yang bisa dijual ke
player lain dengan harga minimal seratus ribu Coll. Uang sebanyak itu cukup
untuk membuat satu full set dari armor terbaik dan masih ada sisa kembaliannya.
Alasan
kenapa benda ini sangat mahal simpel saja, karena benda ini adalah bahan
makanan yang paling enak dibandingkan bahan makanan lainnya di game ini.
Makan adalah
satu-satunya kenikmatan di SAO, tapi makanan yang ada biasanya hanyalah sup dan
roti yang rasanya seperti berasal dari negara eropa—yah aku juga tidak begitu
tahu; tapi kenyataannya rasanya biasa saja. Beberapa player yang melatih skill
memasak mereka juga berpikir seperti itu dan tidak puas hanya dengan makanan
itu. Tapi melatih skill memasak bukanlah hal yang mudah, jadi banyak player
yang tidak bisa melakukannya.
Tentu saja
aku tidak berbeda. Aku tidak begitu membenci sup dan roti gandum yang sering
kubeli dari restoran NPC. Tapi sekali-sekali aku juga ingin makan daging.
Selama
beberapa waktu aku melihat kearah nama item itu dan berpikir apa yang harus
kulakukan. Kemungkinan ku mendapat bahan seperti ini lagi sangat rendah. Sejujurnya,
aku sangat ingin memakannya. Tapi semakin tinggi peringkat bahannya, semakin
tinggi pula skill yang dibutuhkan untuk memasaknya. Jadi aku harus menemukan
orang yang sudah menguasai skill memasak sepenuhnya untuk memasakannya untukku.
Tapi aku tidak
tahu satupun. Yah, aku tahu beberapa, tapi mencari merekalah yang membuat
repot. Selain itu, sudah waktunya aku membeli satu set equipment baru. Jadi,
aku memutuskan untuk menjualnya.
Aku menutup
window nya untuk menyingkirkan semua rasa menyesal, dan menscan area di sekitar
dengan skill ku. Kemungkinan bandit muncul di garis depan sangat tipis, tapi
kau tidak akan pernah terlalu berhati-hati ketika kau mempunyai sebuah benda
S-class.
Aku bisa
membeli berapapun teleport item yang kubutuhkan setelah aku menjualnya, jadi
aku memilih untuk mengurangi resiko dan mulai merogoh saku-ku.
Benda yang
kuambil adalah sebuah kristal yang berbentuk seperti pilar bersisi delapan yang
berwarna biru terang. Sedikit dari magic item di dunia dimana <Magic>
tidak ada, semuanya berbentuk seperti permata. Biru adalah untuk instant
teleportation, pink untuk menyembuhkan HP, hijau untuk penawar racun, dan
lain-lain. Mereka semua adalah item praktis yang menciptakan efek secara
instant, tapi mereka juga mahal. Jadi orang-orang lebih sering menggunakan item
yang lebih murah seperti potion yang memiliki efek lambat setelah kabur dari
pertarungan.
Berpikir
kalau ini adalah, tidak salah lagi, sebuah situasi darurat, Aku memegang
kristal biru itu dan berteriak.
“Teleport!
Algade!”
Ada suara
banyak bel bergema dan kristal di tanganku pecah menjadi kepingan kecil. Pada
saat yang sama, tubuhku diselimuti oleh cahaya biru dan hutannya menghilang
dari pandanganku seperti meleleh. Sebuah cahaya yang lebih terang bersinar, dan
setelah itu menghilang, teleportasinya selesai. Dari suara daun-daun bergesekan
berganti menjadi suara palu para smith dan suara keras dari kota memasuki
suaraku.
Tempatku
muncul adalah <Teleport Gate> yang berada di tengah Algade.
Dibagian
tengah dari plaza yang melingkar, sebuah gerbang yang terbuat dari logam
berdiri setinggi lima meter lebih. Didalamnya, udara berputar-putar seperti
sebuah pusaran dan orang-orang yang teleport keluar masuk.
Empat jalan
utama membentang di keempat arah dari plaza, dan disisi dari semua jalan itu,
banyak toko-toko kecil yang berdiri. Player-player yang pulang setelah seharian
menjelajah berbincang-bincang di depan toko makanan atau minuman.
Jika
seseorang mencoba mendeskripsikan Algade kedalam satu kata, itu pasti adalah
<berantakan>.
Tidak ada
jalan besar seperti yang ada di Starting City dan banyak jalan gang yang
bersilangan di seluruh kota. Ada toko-toko yang kau mungkin tidak tahu apa yang
dijualnya, dan penginapan yang terlihat seperti kalau kau tidak akan pernah
bisa keluar jika kau masuk kedalam.
Sebenarnya,
ada banyak player yang secara tidak sengaja memasuki salah satu gang di Algate
dan tersesat selama beberapa hari sebelum bisa keluar. Aku sudah tinggal disini
hampir setahun sekarang, tapi aku masih tidak hapal setengah dari jalan disini.
Bahkan NPC disini adalah orang-orang aneh yang pekerjaannya susah untuk
ditebak, dan itu membuatmu berpikir kalau orang yang menjadikan tempat ini
sebagai tempat tinggal sekarang ini adalah orang-orang aneh juga.
Tapi aku
menyukai jalan-jalan disini. Aku tidak bohong saat aku pernah bilang
satu-satunya waktu aku merasa tenang adalah ketika aku meminum teh berbau aneh
di sebuah toko di pojokan yang biasa kukunjungi. Alasan dibaliknya adalah
karena aku tempat itu terasa sedikit mirip dengan toko elektronik yang sering
kukunjungi di dunia nyata—yah tidak terlalu juga sih, atau kuharap tidak.
Berpikir
untuk menjual itemnya sebelum kembali kerumah, aku berjalan ke sebuah toko.
Jika aku berjalan mengikuti jalur menuju ke barat dari central plaza, aku akan
sampai ke toko itu setelah melewati sedikit keramaian. Didalamnya, sangat
sempit hingga meski hanya ada 5 player saja terasa sempit disini, dan ada
banyak papan toko seperti: Peralatan, Senjata, dan bahkan bahan makanan yang
bertumpuk disini.
Si pemilik
toko sedang sibuk melakukan tawar menawar.
Ada 2 cara
untuk menjual item. Yang pertama adalah dengan menjualnya ke NPC, atau
character yang di gerakkan oleh system. Cara ini tidak mempunyai resiko ditipu
tetapi harganya selalu sama. Untuk mengurangi peredaran uang berlebih, harganya
dibuat lebih rendah dibanding dengan harga pasaran.
Yang kedua
adalah dengan melakukan trade dengan player lain. Dengan cara ini, kau bisa
menjual itemnya dengan harga tinggi jika kau menawar dengan baik, tapi kau harus
menemukan seseorang untuk menemukannya, dan perselisihan antara player setelah
trade selesai sudah biasa terjadi.
Karena itu,
player merchant yang ahli dalam berdagang item muncul.
Player
merchant tidak bisa hidup hanya dengan berdagang saja. Seperti pemain dengan
class technician, mereka harus mengisi sebagian dari skill slot mereka dengan
skill yang tidak berhubungan dengan pertarungan. Tapi itu tidak berarti mereka
tidak perlu ke field. Merchant harus bertarung untuk barang dagangan, sedangkan
technician untuk bahan baku pembuatan barang, dan, tentu saja mereka mengalami
kesulitan yang lebih besar di bandingkan dengan petarung. Sulit bagi mereka
untuk merasa senang megalahkan musuh mereka.
Karena itu,
mereka yang memilih class tersebut adalah orang-orang hebat yang memebantu para
player bertarung di garis depan setiap hari. Jadi diam-diam aku sangat
menghormati mereka.
…yah, Aku
memang menghormati mereka, tapi orang di depanku ini adalah seseorang yang
tidak bisa disebut baik.
“Oke,
setuju! 25 <Dust Lizard’s hide> untuk lima ratus Coll!”
Pemilik toko
yang sering ku datangi ini, Agil, menepuk pundak orang yang sedang
tawar-menawar dengannya, seorang spearman yang terlihat lemah, dengan tangannya
yang besar itu. Kemudian dia dengan cepat membuka trade window dan memasukan
jumlah uang di dalam trade list nya.
Lawan
transaksinya terlihat sedang berpikir, tapi ketika dia melihat wajah Agil, yang
terlihat seperti petarung kuat yang menakutkan—dan nyatanya, Agil adalah salah
satu warrior pengguna axe yang paling hebat dan seorang merchant yang
handal—spearman yang terlihat lemah itu buru-buru menaruh item nya di trade
list dan menekan OK.
“Terima
kasih banyak! Silahkan datang kembali lain waktu!”
Agil menepuk
pundak spearman itu sekali lagi dan tersenyum lebar. Dust Lizard's hide bisa
digunakan untuk membuat armor yang cukup bagus. Kupikir lima ratus Coll terlalu
murah dilihat dari manapun. Tapi aku tetap diam dan melihat spearman itu pergi.
Ambil ini sebagai pelajaran untuk tidak memperlihatkan kelemahan ketika sedang
tawar menawar, Aku berpikir seperti itu didalam kepalaku.
“Hey, kau
melakukan bisnis seperti itu tanpa malu seperti biasanya.”
Orang tinggi
yang botak itu melihat kearahku dan tersenyum ketika aku berbicara begitu
dibelakangnya.
“Hey, Kirito.
Moto toko ku adalah untuk beli murah dan jual murah,” dia berkata tanpa
menunjukan sedikitpun rasa menyesal.
“Yah, aku
sedikit curiga dengan ’jual murah’nya tapi itu tidak penting. Aku ingin menjual
sesuatu juga.”
“Kau itu
pelanggan, jadi aku tidak bisa menipumu. Yah, coba lihat…”
Sambil
mengatakan itu, Agil menjulurkan lehernya yang tebal dan pendek dan melihat ke
trade window yang kutunjukan.
Avatar di
SAO adalah replika dari tubuh asli player yang dibuat dengan melakukan scan and
pengukuran. Tapi setiap kali aku melihat Agil, Aku selalu bertanya pada diriku
sendiri bagaimana mungkin seseorang bisa memiliki tubuh yang cocok sekali
dengan dirinya.
Tubuh
setinggi 180 cm itu seluruhnya dilapisi dengan otot dan lemak, dan dengan
kepalanya itu dia terlihat seperti seorang pegulat pro. Ditambah lagi, dia
mensetting gaya rambutnya, salah satu dari sedikit hal yang bisa dibuat
sendiri, menjadi botak. Setidaknya efeknya sama menakutkan dengan monster
barbarian.
Meski
begitu, dia memiliki wajah menarik yang terlihat seperti anak kecil ketika dia
terseyum. Kelihatannya dia berumur dua puluhan lebih, tapi aku tidak bisa
menebak apa yang dia kerjakan didunia nyata. Salah satu peraturan tidak
tertulis di dunia ini adalah untuk tidak menanyakan orang lain tentang
<Dirinya di dunia nyata>.
Kedua mata
yang berada dibawah alis tebalnya membesar ketika dia melihat kearah trade
window.
“Wow, itu
kan S-rank rare item. <Ragout Rabbit’s meat>, ini pertama kalinya aku
melihatnya… Kirito kau tidak semiskin itu kan? Apakah kau tidak berpikir
sedikitpun untuk memakannya?”
“Tentu saja
aku berpikir begitu. Sulit sekali menemukan benda seperti ini untuk kedua
kalinya… Tapi agak susah untuk menemukan orang yag bisa memasak bahan seperti
ini…”
Lalu dari
belakang seseorang menepuk bahu ku. “Kirito.”
Itu adalah
suara perempuan. Tidak begitu banyak player perempuan yang tahu namaku. Yah
sebenarnya, dalam situasi seperti ini hanya ada satu orang. Aku menggenggam
tangan yang berada di bahu kiriku dan berkata.
“Juru masak
ketemu.”
“A-Apa?”
Dengan
tangannya di bahuku, orang itu bertanya dengan ekspresi curiga di wajahnya.
Di wajah
kecilnya, yang dikelilingi dengan rambut lurus panjang yang berwarna seperti
kastanye terdapat dua mata yang berwarna kecoklatan yang bersinar-sinar. Tubuh
langsingnya yang ditutupi dengan sebuah combat uniform yang berwarna merah dan
putih, dan ada sebuah rapier yang berwarna perak di dalah sarung pedangnya.
Namanya
adalah Asuna. Dia sangat terkenal hingga hampir semua orang di SAO mengenalnya.
Ada banyak
alasan kenapa dia terkenal, tapi salah satunya adalah karena dia adalah salah
satu dari sedikit player perempuan, dan dia adalah pemilik dari wajah yang
tidak kekurangan apapun, alias dia sangat cantik.
Sulit untuk
mengatakannya di dunia ini, dimana semua orang mempunyai tubuh asli mereka,
tapi perempuan yang cantik adalah hal sangat langka. Kau mungkin bisa
menghitung dengan jari jumlah player yang memiliki wajah secantik Asuna.
Alasan
lainnya adalah karena dia merupakan anggota guild <Knights of the Blood>.
Anggota-anggotanya disebut KoB dengan menggunakan inisial dari <Knights of
the Blood>, dan, semua guild, mengakui kalau mereka adalah guild terkuat.
Guild itu
tidak terlalu besar dan hanya terdiri dari tiga puluh player, tapi mereka semua
berlevel tinggi dan petarung berpengalaman, dengan ketua guildnya yang
merupakan player terkuat dan hampir menjadi legenda di dalam SAO. Selain itu,
dibandingkan penampilannya yang lemah, Asuna adalah seorang wakil ketua.
Kemampuan berpedangnya sangat hebat hingga mendapat gelar <Flash>.
Jadi
penampilan dan kemampuan berpedangnya berada di puncak diantara 6 ribu player
lainnya. Justru aneh kalau dia tidak menjadi terkenal. Dia mempunyai banyak
fans, tapi diantara mereka ada beberapa penguntit yang memuja-muja dia, dan ada
juga orang yang membencinya, jadi sepertinya dia mengalami masa-masa yang
sulit.
Yah, karena
dia adalah seorang petarung tingkat tinggi, seharusnya tidak ada begitu banyak
orang yang akan menantangnya secara langsung. Tapi guildnya sepertinya mau
menunjukkan kalau mereka akan melindunginya, dia sering diikuti oleh dua orang
pengawal atau lebih. Bahkan sekarang ada dua orang pria beberapa langkah di
belakangnya yang menggunakan equipment dengan equipment armor logam dan seragam
KoB. Salah satu diantara mereka, yang berambut ekor kuda, memelototi ku yang
sedang memegang tangan Asuna.
Aku melepaskan
tangan asuna dan berkata.
“Ada apa,
Asuna? Tumben kau datang ke tempat yang penuh sampah seperti ini.”
Wajah dari
pria berambut ekor kuda dan si pemilik toko mengerut kesal; yang satu karena
aku tidak memanggil Asuna dengan gelarnya dan yang satunya karena aku menyebut
tokonya penuh dengan sampah. Tapi si pemilik toko...
“Lama tidak
bertemu, Agil-san.”
...tersenyum
gembira setelah mendengar sapaan dari Asuna.
Asuna
melihat kembali kearahku dan mengecilkan bibirnya sambil terlihat tidak puas.
“Apa-apaan
sih? Susah payah aku mencarimu kesini untuk melihat apakah kau masih hidup
untuk melawan boss yang akan segera ditemukan.”
“Kau sudah
mendaftarkanku sebagai teman jadi kau bisa tahu hanya dengan melihatnya.
Lagipula alasan kau bisa menemukanku kan karena kau menggunakan friend trace di
peta mu.”
Asuna
memalingkan kepalanya kesamping setelah mendengar jawabanku.
Selain
sebagai wakil ketua, dia juga berada di garis depan untuk menyelesaikan game.
Pekerjaan itu termasuk mencari solo player yang menyendiri sepertiku dan
membentuk sebuah party untuk melawan boss. Tapi meski begitu, dia benar-benar
mendatangiku, seberapa tekunnya seseorang seharusnya masih ada batasnya.
Melihat
ekspresiku yang setengah lelah dan setengah heran, Asuna menaruh tangannya di
pinggangnya sebelum berbicara dengan gaya seperti menaikkan dagunya.
“Yah, kau
masih hidup dan itulah yang penting. Se-Selain itu, apa yang kau maksud? Kau
bilang sesuatu tentang juru masak atau sejenisnya.”
“Oh, benar,
benar. Berapa tinggi teknik memasakmu sekarang?”
Yang kutahu,
Asuna memang rajin menaikan skill memasaknya ketika dia punya waktu senggang diantara
latihan skill pedangnya. Dia menjawab pertanyaan ku dengan sebuah senyum
bangga.
“Dengar dan
terkejutlah! Aku sudah <Mastered> skill itu minggu lalu.”
“Apa!?”
Dia
itu…bodoh.
Aku berpikir
seperti itu. Tentu saja aku tidak mengatakannya keras-keras.
Melatih
skill itu sangat-sangat membosankan dan menghabiskan waktu, dan hanya bisa
<Mastered> setelah menaikkan level mereka sebanyak 1000 kali. Sebagai
catatan, level tidak ada hubungannya dengan skill dan naik setelah mendapat
cukup experience point. Hal-hal yang naik bersama dengan level adalah HP,
strength, status seperti dexterity, dan jumlah dari <Skill Slots> yang
menentukan berapa banyak skill yang bisa kau kuasai.
Sekarang ini
aku punya 12 slot, tapi yang sudah kusempurnakan hanyalah skill one-handed
straight sword, Scan for Enemy, dan Weapon Guard. Itu berarti perempuan ini
telah menghabiskan banyak waktu dan usaha untuk skill yang tidak akan membantu
didalam pertarungan.
“…yah, ada
sesuatu yang aku ingin minta tolong untuk kau lakukan dengan skill itu.”
Aku membuat
windowku menjadi terlihat untuk semua orang supaya dia bisa melihatnya. Asuna
melihatnya dengan curiga, dan kemudian matanya terbuka lebar saat dia melihat
nama item itu.
“Uwa!!
Itu…itu kan bahan makanan rangking S!?”
“Jika kau
memasakkannya, Aku akan memberimu satu gigitan.”
Bahkan
sebelum aku berhenti berbicara, tangan kanan dari Asuna si <Flash>
menggenggam kerah leherku. Lalu dia mendekatkan wajahnya hingga hanya tersisa
beberapa cm jarak wajahnya dari mukaku.
“Berikan.
Aku. Setengah!!”
Detak
jantungku berhenti seketika karena kaget dan aku mengangguk tanpa berpikir.
Ketika aku sadar itu sudah terlambat, dan dia melambaikan tangannya kegirangan.
Yah, anggap saja aku beruntung karena aku bisa melihat wajah cantik itu dari
dekat. Begitulah aku meyakinkan diriku sendiri.
Aku menutup
window nya dan berbicara sambil melihat kearah wajah Agil.
“Maaf.
Tradenya batal.”
“Tidak. Itu
tidak apa-apa…hey, kita teman kan? Eh? Bisakah kau membiarkanku mencobanya
juga…?”
“Aku akan
memberikanmu esai delapan ratus kata tentangnya.”
“Ja-jangan
begitu!”
Ketika aku
dengan dinginnya memalingkan wajahku darinya, dia memanggilku dengan suara yang
terdengar seperti kalau dunia akan berakhir. Ketika aku akan berjalan pergi,
Asuna menarik lengan baju jaketku.
“Masaknya
gampang saja, tapi dimana kita akan melakukannya?”
“Ah…”
Jika kau
ingin memasak, maka kau memerlukan beberapa alat memasak seperti kompor dan
oven, begitu juga dengan bahan makanannya. Bukannya di rumahku tidak ada
alat-alat seperti itu, tapi aku tidak bisa mengundang wakil ketua KoB ke tempat
yang berantakan seperti itu.
Asuna
melihat kearahku dengan wajah tidak percaya.
“Yah,
rumahmu pasti tidak mempunyai alat yang dibutuhkan. Tapi aku bisa memasakannya
dirumahku sekali ini saja.”
Dia berkata
sesuatu yang mengejutkanku dengan suara yang tenang.
Asuna
mengabaikanku yang berdiri kaku disana seperti aku sedang lag ketika otakku
memproses apa yang dikatakannya, dan berbalik menghadap ke pengawalnya lalu
berbicara.
“Aku akan
teleport ke <Salemburg>, jadi kalian boleh pergi. Terima kasih atas kerja
keras kalian.”
“A-Asuna-sama!
Datang ke perkampungan kumuh saja sudah cukup buruk, tapi kau juga mengundang
seseorang yang mencurigakan seperti dia kerumahmu. A-apa yang kau pikirkan!?”
Aku tidak
percaya apa yang baru saja kudengar. Dia bilang <Sama>. Dia pasti salah
satu orang yang memuja-muja Asuna. Ketika aku melihat Asuna dengan pikiran
seperti itu, orang yang baru saja dibicarakan terlihat jengkel.
“OK, kau
mungkin bisa menyebutnya mencurigakan, tapi kemampuannya tidak bisa
dipertanyakan. Dia mungkin sekarang sepuluh level diatasmu Kuradeel.”
“A-Apa yang
kau katakan Asuna-sama? apa kau mau mengatakan kalau aku tidak setara dengan
orang sepertinya…!”
Suara pria
itu terdengar hingga keluar gang. Dia memelototiku dengan matanya yang sipit.
Lalu wajahnya memucat seperti dia telah menyadari sesuatu.
“Benar…kau,
kau pasti seorang <Beater>!”
Beater
adalah kata gabungan dari <Beta tester> dan <Cheater>. Itu adalah
kata yang ditujukan untuk orang yang menggunakan cara yang tidak adil dan juga
kata untuk mengutuk atau mengejek yang ada di SAO. Itu adalah kata yang sering
kudengar. Tapi berapa kalipun mendengarnya, kata itu masih saja menyakiti
hatiku. Wajah dari orang yang pertama kali mengatakannya padaku, orang yang
dulu adalah temanku, tiba-tiba muncul di dalam kepalaku.
“Ya. Kau
benar.”
Ketika aku
mengakuinya dengan wajah tanpa ekspresi, pria itu mulai berbicara tanpa henti.
“Asuna-sama,
orang-orang seperti itu tidak peduli apapun selama mereka baik-baik saja! Tidak
ada untungnya berteman dengan orang-orang seperti itu!”
Asuna, yang
dari tadi tenang, tiba-tiba mengernyitkan alis matanya karena jengkel.
Tiba-tiba muncul kerumunan dan kata-kata seperti <KoB> dan <Asuna>
dapat terdengar disana-sini.
Asuna
melihat sekeliling dan mengatakan kepada pria yang terus menerus berbicara
tadi.
“Pergilah
kau dari sini sekarang juga. Itu perintah.”
Dia berkata
dengan kasar dan menarik ikat pinggangku dengan tangan kirinya. lalu dia mulai
berjalan menuju ke gerbang plaza sambil menarikku.
“Err…hey!
Apakah boleh meninggalkan mereka seperti itu?”
“Tidak
apa-apa!”
Yah, aku
tidak punya alasan untuk komplain. Kami keluar dari kerumunan meninggalkan dua
pengawal tadi dan Agil yang masih kecewa. Ketika aku mengintip kebelakang,
ekspresi jengkel pria yang bernama Kuradeel menyangkut di pandanganku seperti
terfoto.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar